Buku bersampul merah muda yang menjadi prahara di tengah gejolak
kawula muda ini sudah cukup lama beredar di tengah masyarakat. Yup buku
karangan ustadz cina (no SARA emang doi yang pamer begitu) menuai banyak
kontroversi, ada yang menolak, ada pula yang mendukung. Dari judulnya
aja udah kontroversial, Udah putusin aja…. hmm, tertarik juga gw baca di
tempat (sebut saja gramedia), kenapa ga beli? Kenapa mesti beli kalo
bisa baca di tempat, wkwkwkwk…. dan hasilnya di luar dugaan, kenapa? Gw
sukses diusir satpam karena tertawa terlalu keras pas baca buku ini. lho jadi lo sesat cuy? Nope, gw emang ga begitu beriman, tapi gw ga terlalu bodoh untuk menelan analogi buku ini.
logika berpikirnya membuat gw mengernyitkan dahi, untuk orang yg mengultus dirinya pendakwah, peta pemikiran doi justru jauh lebih absurd. Entah caranya doi emang begitu, tapi apa iya hampir seluruh logika berpikirnya menjurus ke arah yang sama, juga ga ada kutipan sumber yang memadai (hadits atau hukum islam lain),hampir keseluruhan hanyalah logika pemikiran doi yang sangat subjektif, dan langsung men-judge jelek apa atau siapa yang menyimpang dari pemikirannya.
Baru sekarang gw mau nulis review buku ini, tapi gw gapunya bukunya, Cuma sering baca minjem, numpang ngakak. Jadi mungkin next kalo ada yang minjemin gw buku ini akan gw buat review lengkap seluruh halamannya. Sekarang revieew dari apa yang gw dapet dari internet dulu ya
Setelah peluncurannya, doi sering daktwit dengan tagar udahPutusinAja, dan gw menemukan kumpulan tagar itu di satu tempat yang sebagian besar tagar tersebut dikutip dari buku yang kita bicarakan. Let the story’s begin
pacaran itu menjalin silaturahim | “silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran”
keluarga pacar, bahkan pacar itu sendiri apa ga kategori kerabat?
pacaran itu bikin semangat belajar | “semangat belajar maksiat?”
Suudzon sekali, bukan gw munafik tapi ga sedikit yang dengan pacaran justru mendongkrak nilainya.
pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | “ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?”
ni kenapa negasi dan sanggahan ga berkorelasi? Weird….
pacaran itu sekedar penjajakan kok | “serius nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?”
berani, lalu? Ini sanggahan macam apa?
kasian kalo diputusin | “justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?”
ini baik komentar dan sanggahan sama anehnya, no comment
kasian dia diputusin, aku sayang dia | “putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?”
bukankah menyayangi umatNya juga perintah? Dan memang pacaran menjadi salah satu bukti ketidaktaatan pada Tuhan?
putus itu memutuskan silaturahim | “silaturahim itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?”
gw makin ga ngerti peta pemikirannya. Definisi kerabat yang dipake itu apa? menurut KBBI kerabat merupakan pertalian keluarga (keluarga besar), kalo itu yang dipake, sanggahan ini ada benarnya, namun menurut istilah kerabat merupakan pertalian dekat, saudara kandung maupun non kandung. Dan ingatlah hadits bahwa semua muslim itu bersaudara! Jadi siapapun muslimnya, juga terhitung kerabat. Lagipula ada yang salah dengan silaturahmi dengan ortunya?
nggak tega putusin.. | “berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?”
pikirannya mesum, apakah semua dalam konteks maksiat? Tidak bung, pacaran bukan Cuma tentang maksiat
aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak telpon2an, kan nggak papa? | “nah bagus itu, berarti gak papa juga kalo putus”
ya karena ga ngapa2in, ngapain diputusin? Kok logikanya aneh
aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | “ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti”
memang ada yang salah? Memang ada yang pasti? Wong dakwahmu aja ga tentu sampai kok
nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin gimana? | “pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yg nggak nikah sama pacarnya”
another, statement yang aneh dan sanggahan yang tak kalah aneh. realitasnya jauh lebih banyak orang yang menikah dengan pacarnya
berat mutusin | “semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu :)”
dalilnya?
nanti aku dibilang nggak laku gimana? | “bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja”
ini apaaa….statement’nya apa sanggahannya apa. kok ga ada korelasi?
kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri | “belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah dia bakal ancem bunuh kamu!”
bruakakaka, kalo pacar yang model gini sih emang putusin ajaa
dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya | “hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya malah nambah”
idem
pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam
statementnya sendiri sudah semantis untuk minta putus kan….
pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran
dilihat dari logika berpikirnya akan terlihat bahwa si pendakwah memang mesum. Pacaran tak selalu berakhir zina, dan zina tak selalu berawal dari pacaran
pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan mengingat Allah | melisankan manusia bukan Allah
dengan mengingat umatnya yang taat akan membantu kita mengingat sang khalik, masalahnya dimana?
pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2 telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms mamah baru nih)
then u choosed wrong person to kept. Kalo pacarnya kek gitu sih emang putusin aja
pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit? hehe..
idem
lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda?
Masalahnya apa? berapapun mantannya yang penting ketika di pelaminan menjadi yang terakhir.
wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak “aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini :)”
banyak juga yang pacaran memang ga ngapa-ngapain. Again, pikiran pendakwahnya yang mesum
Cinta tak selalu indah, karenanya perlu komitmen nikah | tapi nafsu tak perlu komitmen, makanya pacaran hanya pentingkan rasa nikmat
Karena pacaran juga butuh komitmen bung, dan sangat tidak bijak untuk kaliber “ustad” berpikir suudzon terhadap sesuatu. And again, pikirannya aja yang mesum
Sesuatu yang tanpa komitmen, tanpa ikatan biasanya disenangi lelaki | yang bisa dia buat jika dia suka, ditinggalkan bila sudah tak suka
Totem proparte, lelaki yang dimaksud mencerminkan si penulis sendiri. Again reflektivitas, and again, pikiran dia aja yang mesum
Kenapa lelaki senang hubungan tiada komitmen dan ikatan? | karena masa depan lelaki tak dinilai dari masa lalunya
Kata siapa? Sungguh ini salah satu bukti teori reflektivitas
Tapi wanita tak sama dengan lelaki, kehormatannya tiada kembali dua kali | sungguh tak bijak bila wanita rela hubungan miskin komitmen
Kekna definisi hubungan yang kami pikirkan berbeda, hubungan yg ustad cina satu ini pikirkan hanya hubungan badan semata
Pria dipilih karena masa depannya, sedang wanita dipilih dengan masa lalunya | perhatikan baik-baik agar tiada penyesalan
Teori dari mana? Pendapat siapa? Pendapat pribadi anda? Memaksakan pendapat pribadi pada khalayak, sungguh tidak bijak. Wanita juga ga mau kok nikah ama pria yang dulunya sering keluar masuk penjara. Dan apakah salah memilih wanita dengan masa lalu kelam jika ia telah bertobat?
Saat kehormatan sudah direnggut | wanita kalang kabut, sementara lelaki tinggal kabur
Reflektivitas….. he once the one that did it…. namanya lelaki ya berani tanggung jawab, dan kembali, jika statemen ini ada dalam bukunya, dan dikatikan dengan konteks pacaran, jelas kan pikirannya mesum.
Bagi lelaki yang sudah dapatkan keinginannya, hilanglah daya pikat seorang wanita | itu terjadi bila hubungan tanpa komitmen pacaran
Memang virginity dan kecantikan menjadi faktor penentu hubungan? TIDAK bung…kalo anda berpikir seperti itu, ya berarti anda yang mesum toh
Begitulah jamak terjadi, kata cinta diobral murah agar wanita lemah serahkan kehormatan | setelahnya semua cinta menguap tiada bekas
Tidakkah ada bahasan lain selain kehormatan? Lagi, pacaran bukan Cuma tentang seks semata. makin lama makin jelas toh dia mesum?
Nafsu itu mengamputasi akal, sedang cinta menguatkan akal | nafsu tiada pikir hari esok, yang penting nikmat sekarang
Melebar jauh dari inti. Ketika kata pacaran hanya merujuk pada selangkangan, dimana nama baik anda bung
Bayangkan, saat terlanjur direnggut kehormatan | bila dia mau menikahi, musibah bagimu – bila menolak menikahi, musibah sama
Kata pertama udah merusak semua statement. Ya gausah dibayangkan, tolak sebelum terjadi, kelar kan?
Menikahi lelaki yang sudah berani berzina sama saja menikahi pezina dimasa depan | bila dia tiada taubat, sengsara di depan nyata
Teori darimana? Pemikiran siapa? Ada sumber yang jelas? dalil? Dan pada statement berikutnya, terdapat kata “bila”, komen gw sama ama yang sebelumnya
Bila dia yang berbuat lepas tanggung jawab menikahi? | maka kehidupan bagimu berat, karena kau bawa beban teramat sangat
Idem
Karenanya tiada kebaikan sama sekali pada pacaran | itulah ancaman sebenar terhadap kehormatan wanita satu-satunya
Sama sekali bung? Woo hoo, gw bisa buat makalah dari statement ini hanya berdasarkan metode kuantitatif. Dan lagi, bukti bahwa definisi pacaran menurut ustad ini adalah selangkangan
Untuk apa alasan perkenalan, bila wanita dirugikan? | dalam taaruf bilapun tiada cocok, maka tidak sekalipun wanita disentuh
Sadarkah kaum hawa, bahwa sejauh ini dia memandang wanita itu rendah, begitu mudah disentuh bahkan diperawani. Pacaran bisa aja ga merugikan selama wanita bisa menahan. Dan wahai kaum wanita, kami pria juga ga setolol itu untuk berani berbuat dengan paksaan dan ancaman
Lebih baik lagi, bila sadar diri belumlah siap, jangan mulai apa yang tak mampu diselesaikan | tak perlu mulai ta’aruf, puasa saja
Sadar diri belumlah siap itu frase apa? kesadaran diri mungkin? dan sesungguhnya bagaimana kau akan tahu kau mampu bila kau tak berani mencoba
Ucapan “sayang” tidak menyelamatkan wanita dari kerugian | takut tiada berjodoh lalu pacaran, sama saja membeli sengsara masa depan
Memangnya orang pacaran itu karena takut ga jodoh ya? Landasan dasarnya-pun sayang dan percaya kan. dan jujur gw ga ngerti statement ini, kata sayang…memang sebuah kata tak menyelamatkan, tapi pembuktian dari kata itu yang menjadi faktornya. Kalo dia sayang, kalo saling sayang pastinya akan saling menjaga.
Bila saja wanita mengetahui apa yang dipikir lelaki saat pacaran, tentu dia akan tinggalkan detik itu juga | sayangnya tiada yang tahu
Bruakakakaka….. yang dipikirkan lelaki? Lagi kan…totem pro parte, reflektivitas. Hanya oknum yang berpikir akan menyetubuhi wanita ketika mulai mendekatinya untuk pacaran. Dan dari yang tersirat, doi salah satu oknumnya
Boleh kau anggap nasihat kami fiksi, sampai suatu saat jadi bagimu faksi | boleh kau anggap kami menakuti, sampai padamu terjadi
Nasihat? Sejauh yang saya baca ini adalah doktrin, karena nasihat tidak merujuk pada satu statement yang bersifat sangat subjektif
Pacaran 100% merugikan perempuan, cepat atau lambat | 100% menguntungkan lelaki, cepat atau lambat
Errr… gw bingung mesti nulis apa, terlalu aneh. konklusi tanpa adanya proses dan bukti yang disertai, nihil.
“anda bilang semua(100%)? Jika saya bisa memberi satu bukti sesuatu yang anda katakan tidak ada, maka seluruh argumen anda salah” (Mina Elfira P.hD)
jangan sampai pahala ramadhan yg 1/2 mati dikumpulkan berakhir dengan penyesalan 1/2 mati karena hilang kehormatan
lagi dan lagi, pacaran = selangkangan. Masih perlu dibeberkan bukti kemesumannya?
Dalam daktwit diatas terdapat beberapa hal menarik.
“Bila saja wanita mengetahui apa yang dipikir lelaki saat pacaran, tentu dia akan tinggalkan detik itu juga”
Gw menekan satu twit ini karena sangat “menarik” menurut gw. Lelaki di sini sangatlah totem pro parte, doi terlalu me-generalisasi (halah macem vicky). Secara semantis terlihat bahwa lelaki hanya akan mengincar hal yang tak diinginkan wanita ketika berpacaran (yg kembali dalam hal ini adalah selangkangan).
Keseluruhan isi daktwit ini adalah hipotesis awal berdasarkan sumber yang ditemukan, bukan berdasarkan proses penelaahan lebih lanjut terhadap lingkup fenomena tersebut. gampangnya, hanya melihat fenomena pacaran dalam lingkup sempit berdasarkan stigma bahwa pacaran = hubungan seksual. Jika doi akan menuliskan (apalagi menyatakan) sesuatu hal tentang pacaran, harusnya ada penelitian mendalam terlebih dahulu tentang fenomena ini. bukan dari beberapa komentar belaka.
At last, sangat tidak arif, sekali lagi sangat tidak arif untuk figur sekaliber Felix siauw (yang notabene mengultus diri sebagai pendakwah) untuk menuliskan hal tanpa pertanggungjawaban (bukti) terhadap sesuatu. Dan lebih parahnya secara sangat suudzon menghakimi satu pihak dengan logika berpikir yang ga jelas.
Ketika gw dapet pinjeman bukunya, akan gw bahas seluruh isi buku tersebut, halaman per halaman, panel per panel, kalimat per kalimat. Be there soon
logika berpikirnya membuat gw mengernyitkan dahi, untuk orang yg mengultus dirinya pendakwah, peta pemikiran doi justru jauh lebih absurd. Entah caranya doi emang begitu, tapi apa iya hampir seluruh logika berpikirnya menjurus ke arah yang sama, juga ga ada kutipan sumber yang memadai (hadits atau hukum islam lain),hampir keseluruhan hanyalah logika pemikiran doi yang sangat subjektif, dan langsung men-judge jelek apa atau siapa yang menyimpang dari pemikirannya.
Baru sekarang gw mau nulis review buku ini, tapi gw gapunya bukunya, Cuma sering baca minjem, numpang ngakak. Jadi mungkin next kalo ada yang minjemin gw buku ini akan gw buat review lengkap seluruh halamannya. Sekarang revieew dari apa yang gw dapet dari internet dulu ya
Setelah peluncurannya, doi sering daktwit dengan tagar udahPutusinAja, dan gw menemukan kumpulan tagar itu di satu tempat yang sebagian besar tagar tersebut dikutip dari buku yang kita bicarakan. Let the story’s begin
pacaran itu menjalin silaturahim | “silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran”
keluarga pacar, bahkan pacar itu sendiri apa ga kategori kerabat?
pacaran itu bikin semangat belajar | “semangat belajar maksiat?”
Suudzon sekali, bukan gw munafik tapi ga sedikit yang dengan pacaran justru mendongkrak nilainya.
pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | “ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?”
ni kenapa negasi dan sanggahan ga berkorelasi? Weird….
pacaran itu sekedar penjajakan kok | “serius nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?”
berani, lalu? Ini sanggahan macam apa?
kasian kalo diputusin | “justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?”
ini baik komentar dan sanggahan sama anehnya, no comment
kasian dia diputusin, aku sayang dia | “putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?”
bukankah menyayangi umatNya juga perintah? Dan memang pacaran menjadi salah satu bukti ketidaktaatan pada Tuhan?
putus itu memutuskan silaturahim | “silaturahim itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?”
gw makin ga ngerti peta pemikirannya. Definisi kerabat yang dipake itu apa? menurut KBBI kerabat merupakan pertalian keluarga (keluarga besar), kalo itu yang dipake, sanggahan ini ada benarnya, namun menurut istilah kerabat merupakan pertalian dekat, saudara kandung maupun non kandung. Dan ingatlah hadits bahwa semua muslim itu bersaudara! Jadi siapapun muslimnya, juga terhitung kerabat. Lagipula ada yang salah dengan silaturahmi dengan ortunya?
nggak tega putusin.. | “berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?”
pikirannya mesum, apakah semua dalam konteks maksiat? Tidak bung, pacaran bukan Cuma tentang maksiat
aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak telpon2an, kan nggak papa? | “nah bagus itu, berarti gak papa juga kalo putus”
ya karena ga ngapa2in, ngapain diputusin? Kok logikanya aneh
aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | “ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti”
memang ada yang salah? Memang ada yang pasti? Wong dakwahmu aja ga tentu sampai kok
nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin gimana? | “pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yg nggak nikah sama pacarnya”
another, statement yang aneh dan sanggahan yang tak kalah aneh. realitasnya jauh lebih banyak orang yang menikah dengan pacarnya
berat mutusin | “semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu :)”
dalilnya?
nanti aku dibilang nggak laku gimana? | “bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja”
ini apaaa….statement’nya apa sanggahannya apa. kok ga ada korelasi?
kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri | “belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah dia bakal ancem bunuh kamu!”
bruakakaka, kalo pacar yang model gini sih emang putusin ajaa
dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya | “hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya malah nambah”
idem
pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam
statementnya sendiri sudah semantis untuk minta putus kan….
pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran
dilihat dari logika berpikirnya akan terlihat bahwa si pendakwah memang mesum. Pacaran tak selalu berakhir zina, dan zina tak selalu berawal dari pacaran
pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan mengingat Allah | melisankan manusia bukan Allah
dengan mengingat umatnya yang taat akan membantu kita mengingat sang khalik, masalahnya dimana?
pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2 telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms mamah baru nih)
then u choosed wrong person to kept. Kalo pacarnya kek gitu sih emang putusin aja
pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit? hehe..
idem
lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda?
Masalahnya apa? berapapun mantannya yang penting ketika di pelaminan menjadi yang terakhir.
wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak “aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini :)”
banyak juga yang pacaran memang ga ngapa-ngapain. Again, pikiran pendakwahnya yang mesum
Cinta tak selalu indah, karenanya perlu komitmen nikah | tapi nafsu tak perlu komitmen, makanya pacaran hanya pentingkan rasa nikmat
Karena pacaran juga butuh komitmen bung, dan sangat tidak bijak untuk kaliber “ustad” berpikir suudzon terhadap sesuatu. And again, pikirannya aja yang mesum
Sesuatu yang tanpa komitmen, tanpa ikatan biasanya disenangi lelaki | yang bisa dia buat jika dia suka, ditinggalkan bila sudah tak suka
Totem proparte, lelaki yang dimaksud mencerminkan si penulis sendiri. Again reflektivitas, and again, pikiran dia aja yang mesum
Kenapa lelaki senang hubungan tiada komitmen dan ikatan? | karena masa depan lelaki tak dinilai dari masa lalunya
Kata siapa? Sungguh ini salah satu bukti teori reflektivitas
Tapi wanita tak sama dengan lelaki, kehormatannya tiada kembali dua kali | sungguh tak bijak bila wanita rela hubungan miskin komitmen
Kekna definisi hubungan yang kami pikirkan berbeda, hubungan yg ustad cina satu ini pikirkan hanya hubungan badan semata
Pria dipilih karena masa depannya, sedang wanita dipilih dengan masa lalunya | perhatikan baik-baik agar tiada penyesalan
Teori dari mana? Pendapat siapa? Pendapat pribadi anda? Memaksakan pendapat pribadi pada khalayak, sungguh tidak bijak. Wanita juga ga mau kok nikah ama pria yang dulunya sering keluar masuk penjara. Dan apakah salah memilih wanita dengan masa lalu kelam jika ia telah bertobat?
Saat kehormatan sudah direnggut | wanita kalang kabut, sementara lelaki tinggal kabur
Reflektivitas….. he once the one that did it…. namanya lelaki ya berani tanggung jawab, dan kembali, jika statemen ini ada dalam bukunya, dan dikatikan dengan konteks pacaran, jelas kan pikirannya mesum.
Bagi lelaki yang sudah dapatkan keinginannya, hilanglah daya pikat seorang wanita | itu terjadi bila hubungan tanpa komitmen pacaran
Memang virginity dan kecantikan menjadi faktor penentu hubungan? TIDAK bung…kalo anda berpikir seperti itu, ya berarti anda yang mesum toh
Begitulah jamak terjadi, kata cinta diobral murah agar wanita lemah serahkan kehormatan | setelahnya semua cinta menguap tiada bekas
Tidakkah ada bahasan lain selain kehormatan? Lagi, pacaran bukan Cuma tentang seks semata. makin lama makin jelas toh dia mesum?
Nafsu itu mengamputasi akal, sedang cinta menguatkan akal | nafsu tiada pikir hari esok, yang penting nikmat sekarang
Melebar jauh dari inti. Ketika kata pacaran hanya merujuk pada selangkangan, dimana nama baik anda bung
Bayangkan, saat terlanjur direnggut kehormatan | bila dia mau menikahi, musibah bagimu – bila menolak menikahi, musibah sama
Kata pertama udah merusak semua statement. Ya gausah dibayangkan, tolak sebelum terjadi, kelar kan?
Menikahi lelaki yang sudah berani berzina sama saja menikahi pezina dimasa depan | bila dia tiada taubat, sengsara di depan nyata
Teori darimana? Pemikiran siapa? Ada sumber yang jelas? dalil? Dan pada statement berikutnya, terdapat kata “bila”, komen gw sama ama yang sebelumnya
Bila dia yang berbuat lepas tanggung jawab menikahi? | maka kehidupan bagimu berat, karena kau bawa beban teramat sangat
Idem
Karenanya tiada kebaikan sama sekali pada pacaran | itulah ancaman sebenar terhadap kehormatan wanita satu-satunya
Sama sekali bung? Woo hoo, gw bisa buat makalah dari statement ini hanya berdasarkan metode kuantitatif. Dan lagi, bukti bahwa definisi pacaran menurut ustad ini adalah selangkangan
Untuk apa alasan perkenalan, bila wanita dirugikan? | dalam taaruf bilapun tiada cocok, maka tidak sekalipun wanita disentuh
Sadarkah kaum hawa, bahwa sejauh ini dia memandang wanita itu rendah, begitu mudah disentuh bahkan diperawani. Pacaran bisa aja ga merugikan selama wanita bisa menahan. Dan wahai kaum wanita, kami pria juga ga setolol itu untuk berani berbuat dengan paksaan dan ancaman
Lebih baik lagi, bila sadar diri belumlah siap, jangan mulai apa yang tak mampu diselesaikan | tak perlu mulai ta’aruf, puasa saja
Sadar diri belumlah siap itu frase apa? kesadaran diri mungkin? dan sesungguhnya bagaimana kau akan tahu kau mampu bila kau tak berani mencoba
Ucapan “sayang” tidak menyelamatkan wanita dari kerugian | takut tiada berjodoh lalu pacaran, sama saja membeli sengsara masa depan
Memangnya orang pacaran itu karena takut ga jodoh ya? Landasan dasarnya-pun sayang dan percaya kan. dan jujur gw ga ngerti statement ini, kata sayang…memang sebuah kata tak menyelamatkan, tapi pembuktian dari kata itu yang menjadi faktornya. Kalo dia sayang, kalo saling sayang pastinya akan saling menjaga.
Bila saja wanita mengetahui apa yang dipikir lelaki saat pacaran, tentu dia akan tinggalkan detik itu juga | sayangnya tiada yang tahu
Bruakakakaka….. yang dipikirkan lelaki? Lagi kan…totem pro parte, reflektivitas. Hanya oknum yang berpikir akan menyetubuhi wanita ketika mulai mendekatinya untuk pacaran. Dan dari yang tersirat, doi salah satu oknumnya
Boleh kau anggap nasihat kami fiksi, sampai suatu saat jadi bagimu faksi | boleh kau anggap kami menakuti, sampai padamu terjadi
Nasihat? Sejauh yang saya baca ini adalah doktrin, karena nasihat tidak merujuk pada satu statement yang bersifat sangat subjektif
Pacaran 100% merugikan perempuan, cepat atau lambat | 100% menguntungkan lelaki, cepat atau lambat
Errr… gw bingung mesti nulis apa, terlalu aneh. konklusi tanpa adanya proses dan bukti yang disertai, nihil.
“anda bilang semua(100%)? Jika saya bisa memberi satu bukti sesuatu yang anda katakan tidak ada, maka seluruh argumen anda salah” (Mina Elfira P.hD)
jangan sampai pahala ramadhan yg 1/2 mati dikumpulkan berakhir dengan penyesalan 1/2 mati karena hilang kehormatan
lagi dan lagi, pacaran = selangkangan. Masih perlu dibeberkan bukti kemesumannya?
Dalam daktwit diatas terdapat beberapa hal menarik.
- Doi menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, berpikir totem pro parte dalam sudut pandang yang sangat subjektif
- Ketika seorang penulis menyatakan sesuatu dengan yakin dan terperinci namun tanpa adanya bukti, antara ia tidak mengenal masalah itu maka menyampaikan secara utopias, atau memang dia sangat mengenal (menjadi bagian) masalah itu.
- (sangat) suudzon, yup…bukankah harusnya kita (muslim) berprasangka baik terhadap sesuatu? Namun dapat dilihat banyak twitnya yang langsung menyudutkan satu pihak dan mengkonklusi masalah dengan subjektivitas tinggi
- Merendahkan kaum.
- Keseluruhan isi dari tagar udahPutusinAja (yg juga isi bukunya) adalah argumentasi kosong dengan logika berpikir menyimpang dan sangat subjektif. Tanpa disertai bukti (yang harusnya argumentasi disertai fator pendukung argumen tersebut)
- Lelaki adalah mahkluk pengecut yang haus nafsu dan selangkangan, apapun dilakukan demi keperawanan, namun akan pergi begitu saja setelah merobek selaput dara
- Wanita adalah mahkluk lemah pengumbar nafsu yang dengan sangat mudah menyerahkan selangkangannya kepada pria tanpa memikirkan faktor lain. Ontologi, atas nama cinta semua akan rela
- Pacaran adalah proses penmesuman dan perobekan selaput dara. Sayang hanyalah kedok dalam prosesnya.
“Bila saja wanita mengetahui apa yang dipikir lelaki saat pacaran, tentu dia akan tinggalkan detik itu juga”
Gw menekan satu twit ini karena sangat “menarik” menurut gw. Lelaki di sini sangatlah totem pro parte, doi terlalu me-generalisasi (halah macem vicky). Secara semantis terlihat bahwa lelaki hanya akan mengincar hal yang tak diinginkan wanita ketika berpacaran (yg kembali dalam hal ini adalah selangkangan).
Keseluruhan isi daktwit ini adalah hipotesis awal berdasarkan sumber yang ditemukan, bukan berdasarkan proses penelaahan lebih lanjut terhadap lingkup fenomena tersebut. gampangnya, hanya melihat fenomena pacaran dalam lingkup sempit berdasarkan stigma bahwa pacaran = hubungan seksual. Jika doi akan menuliskan (apalagi menyatakan) sesuatu hal tentang pacaran, harusnya ada penelitian mendalam terlebih dahulu tentang fenomena ini. bukan dari beberapa komentar belaka.
At last, sangat tidak arif, sekali lagi sangat tidak arif untuk figur sekaliber Felix siauw (yang notabene mengultus diri sebagai pendakwah) untuk menuliskan hal tanpa pertanggungjawaban (bukti) terhadap sesuatu. Dan lebih parahnya secara sangat suudzon menghakimi satu pihak dengan logika berpikir yang ga jelas.
Ketika gw dapet pinjeman bukunya, akan gw bahas seluruh isi buku tersebut, halaman per halaman, panel per panel, kalimat per kalimat. Be there soon
No comments:
Post a Comment