Sunday, 12 January 2014

Pongah, sombong dan dengki

Di sini gw ingin mengutip beberapa twit, sekaligus memberi sanggahan. Ya mungkin gw akan dibilang pongah, bebal, atauu bahasa kasar lainnya, tapi gw masih percaya “there’s no stupid question” . beberapa twit dari pendakwah kondang kita yang mengultus dirinya muslim. Beberapa kultwit doi memang eksplisit menentang sesuatu, dan hanya beracuan pada agama. Lho salah? Ga sih sebenernya, tapi perlu disadari bahwa ilmu bukan hanya muncul dari 3 sumber itu saja. Bahkan sumber ketiga yang kita ketahui bersama haruslah berpedoman pada bidang keilmuan lain. Maka baru kita dapat dikatakan beragama dan berilmu.

Bila kita sudah terbiasa mencari cela dan salah dari orang lain | wajar bila tidak ada kebaikan yang bisa ditemukan dari kita

Banyak orang bertanya namun hatinya penuh kedengkian | maka diam itu jawaban bagi yang tak berhak atas jawaban
Kayu rusak tak bisa dipahat, hati dengki tak mempan nasihat | orang pandir tak perlu didebat, karena untuk baik ia tak niat

Karya memang bisa dikritik | namun kritik itu jelas bukan karya

Ya cukup dulu empat itu...  mari kita telaah secara keseluruhan. Logikanya, orang bertanya maka ia tak tahu kan?
“ada yang nanya karena ngetes, atau jumawa karena merasa lebih pintar”
Hmmm gitu, mari kita berlogika. Gw tau apa itu gajah, maka gw iseng nanya ke guru matematika, “pak gajah itu apa?” jawabannya paling logis adalah “gajah ya binatang besar, dengan telinga besar, dan belalai panjang” measure, masuk akal karena guru matematika. Tapi apa cukup dengan jawaban itu sedangkan gw tau lebih banyak dari itu? maka lebih tepat nanya ke guru biologi kan? “pak gajah itu apa?”, jawabannya tentu akan lebih mendalam, “gajah itu binatang besar bertulang belakang (vertebrata), kelas mamalia (menyusui) yang berbelalai panjang, habitatnya dimana, makannya apa, dsb”
Lebih masuk akal. Tapi ya namanya orang jumawa, “ah gw tau itu sih, belajar dari SD” sombong dooong. Gw tau semua yang dia kasi tau, maka gw akan nanya ke yg lebih ahli, ngetes nih ceritanya. Ahli biologi atau ahli mamalia sebutlah di balai pengayoman satwa. “pak gajah itu apa?”
Ya dan jawaban akan mendekati guru biologi, tapi akan ada hal menarik yang (terkadang ga penting) tapi malah jadi pengetahuan baru seperti “ukuran dan bentuk kuping gajah itu berbeda di tiap habitatnya, atau usia kehamilan gajah yang bisa ampe 22 bulan!, dan gajah satu-satunya mamalia yg gabisa melompat”
Jadi apa salah kalo gw nanya pertanyaan yang terkesan retoris pada ahlinya? Bisa jadi kan apa yang uda gw ketahui selama ini salah, atau gw denger dari orang lain dengan kenyataan yang berbeda. Maka dengan bertanya pada ahlinya (harusnya) menemukan jawaban yang lebih sesuai.

Dan masi masalah gajah, apa seorang katakanlah ahli gajah akan memaksa gajah melompat untuk membuktikan dia gabisa lompat? Ga juga laah... terus dapet fakta darimana gajah gabisa lompat? Butuh ilmu lain dong, gabisa jumawa doi Cuma berkutat masalah gajah. Butuh logika juga, kalo kita liat di animal planet, walau udah dikejar predator, gajah gapernah lari, Cuma bisa jalan. Naah di sini logika dipake. Lari itu butuh fase seluruh kaki ga menginjak tanah (bisa dibilang lompat) maka tersebutlah fakta gajah gabisa lompat.

“Lha kok agan ini malah ngomongin gajah? Hubungannya apa?”
Pemakaian analogi dan logika berpikir itu seru gan. Biar ga Cuma muter ama satu fakta. Gw tau apa itu gajah (gw tau tentang keagamaan yang ingin gw tanya atau bahkan tes), kalo gw tanya ke yang disiplin ilmunya beda (di analogi tadi guru matematika) yang gw dapet ya pengetahuan standar, sama apa yang udah gw tau.. kalo gw nanya ama ahli namun belum menguasai (sebutlah ulama lokal setempat) yang dalam analogi tadi guru biologi. Ada ilmu yang gw dapet, tapi tetep ga cukup banyak untuk mengalahkan kejumawaan gw. Maka gw nanya ke yang lebih berilmu (dalam hal ini anda) yang dalam analogi tadi ahli gajah di pengayoman satwa. Apa konyol seorang muslim bertanya tentang agamanya kepada yang lebih paham agama? Ga dong....
“ya kalo pertanyaan kelewat tolol yang retoris?”
Ya dijawab aja, susah emang njawab? Kita pake analogi pertanyaan yang katanya tolol deh
“pak ustad, kenapa saya (laki2) ga boleh berjilbab?” <= retoris parah, tapi apa tolol? Ga juga. Kan tinggal dijawab “karena hijab itu kewajiban untuk wanita”
Dan gw berlogika, “kalo untuk wanita wajib, ga ada aturan laki dilarang berhijab dong?”
Makin tolol pertanyaanya? Ga juga, kan bisa dijawab “ga boleh... agama kita mengajarkan pria dilarang berpakaian menyerupai wanita, kalo hijab itu pakaian wanita, berarti lelaki ga boleh dong”
Kelar kan? tolol? Engga... pandir kalo nanya gitu? Mungkin, tapi ga salah kan kalo dijawab?

Okeh kita ke twit itu

Twit pertama, mencari cela atau salah? Ya pemikiran, kapasitas otak, tingkat pendidikan dan nalar manusia kan beda2... bisa jadi dia lebih pintar, bisa jadi si penanya lebih logis. Kalo ada perbedaan keberterimaan, ya sudah sewajarnya ditanya. “there’s no stupid question”. Kalo emang kaliber otaknya doi mampu, jawab aja. Ga susah kok. Kenapa mesti nyela?

Twit kedua, diam adalah jawaban bagi yang tak berhak atas jawaban. Jadi seorang yang bertanya tidak selalu berhak mendapat jawaban? Rasul aja menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan ke beliau. Dia siapa berani menghakimi orang tak berhak atas jawaban? Balik ke logika gajah, memang bertanya atau jumawa, kalo dijawab memang salah?

Twit ketiga, Orang pandir tak perlu didebat. Masalahnya siapa yang mau ndebat? Lha kami hanya bertanya bung. Tata kalimat mungkin terkesan memojokan, tapi tetaplah kami bertanya, jika tahu ya dijawab, jika tidak bilang tidak.

Twit terakhir, Karya memang bisa dikritik | namun jelas kritik itu bukan karya
Asli ngakak gw. Kritik jelas bukan karya? Coba deh buka gugel, cari vissarion Belinsky. Siapa dia? dia adalah kritikus terkemuka Rusia. Berani dengan lantangnya ngritik sastrawan yang tengah berjaya. Masi dibilang bukan sebuah karya? Coba deh di cek artikel-artikel yang dia buat, apa namanya kalo bukan karya?

Di sini gw menemukan sebuah pertanyaan baru. Jadi siapa yang pandir dan jumawa? Umat “bodoh” dengan pertanyaan “bodohnya” atau orang yang mengultus diri sebagai pendakwah dengan segala ketinggian hati hingga tak mau menjawab pertanyaan?

Tentu kita ingat dongeng masa kecil, ketika nabi muhammad SAW dengan setia dan ikhlas menyuapi pengemis buta yang selalu mengutuk dan mencemooh dirinya. Setiap hari ia datang membawa makanan, dan menyuapinya. Apa yang dikatakan pengemis buta itu? “muhammad itu pengikut setan, muhammad itu sesat” dan segala gunjingan lainnya. Pandir? Iya... dengki? Iya..jumawa? apalagi... tapi apa yang muhammad perbuat? Apa dia kesal dan pergi? Apa dia marah? apa dia diam dan berpikir bahwa yang dihadapannya hanya pengemis buta yang pandir? ENGGAK! Tetep aja dijawab apa yang dikatakan pengemis itu dengan kelembutan hati. Tetap dia suapi orang yang setiap hari menghinanya. Dan siapa anda berani mengatakan diam adalah jawaban untuk yang tak berhak memperoleh jawaban ketika manusia paling sempurna, imam dari segala imam, panutan dunia menjawab apa yang ia ketahui untuk setiap kritikan atau pertanyaan bahkan dari yang dianggap hina...

Kepada anda, kembali saya tanya, siapa yang jumawa hingga tak mau mendengar perkataan orang? Siapa yang pandir hingga tak mau menjawab pertanyaan orang? Apa pantas anda mengultus diri pendakwah ketika contoh kepandiran merasuki jiwa anda sendiri?orang bijak ga pilih lawan bicara... jika ia bijak maka kebijakannya akan tercurah bahkan ke kasta terendah....

Mungkin anda tak akan menjawab karena menyangka saya pandir, dengki,  jumawa dan sebagainya. Maka ketahuilah kebenaran tetap sebuah kebenaran walau keluar dari mulut anjing. Dan diam bukanlah jawaban. Kewajiban seorang muslim untuk mengingatkan sesamanya, bukan membiarkan mereka terjerumus lebih dalam. Dan jawaban yang mereka, kami cari. Bukan sebuah kebisuan dari yang mengultus diri pendakwah....

No comments:

Post a Comment